Sudah dari awal rasanya alur ku hancur. Aku tak mampu memperbaikinya, bahkan kini benar-benar semakin lebur. Seberat inikah hidup? Bahkan aku tak punya tempat pulang, rumahku sama sekali tak memberi kenyamanan. Tidak ada tempatku untuk singgah.
Berulang kali aku menepis agar tidak ada kata mengapa dalam setiap kesedihanku. Tapi... Entah selalu saja aku tak mampu. Aku tidak butuh simpati aku hanya ingin dimengerti. Apakah salah?
Aku tidak ingin menyalahkan siapa pun dalam hal ini. Yaa ini sudah takdirku. Tapi bisakah berhenti menghajar mentalku? Aku sudah hampir gila karna hal" Kecil yang rumit ini.
Sejak dulu aku sudah lelah dengan tangisan tanpa suara di malam hari, membungkam diri agar lirih suara ini. Di pagi hari aku akan berusaha terlihat ceria lagi.
Entah sampai kapan aku menunggu ada kebahagiaan itu datang. Hingga harapan itu hilang.
Aku selalu berusaha mensyukuri ini , tapi aku hanya manusia biasa yang punya batas. Aku punya perasaan, aku juga kesal jika selalu dijadikan bahan pelampiasan kemarahan. Aku juga punya hati yang juga sakit ketika disakiti.
Luka batinku tak kunjung membaik, apalagi hampir tiap hari selalu di hantami dengan perihnya kata" kasar.
Jika mengakhiri hidup tidak ada resiko mungkin aku sudah melakukan itu sejak lama, untuk siapa lagi aku disini?
No comments:
Post a Comment